Oleh : Rina Dianti Hasan
Kisruh pelayanan Puskesmas Bangkinang Kota tampaknya belum akan berhenti dan netizen terutama dari Kampar menikmati.. Kenapa demikian? Karena selama ini pelayanan kesehatan di Kampar banyak dipertanyakan, walaupun saya tidak mau menyebutnya buruk. Tapi begitulah.
Selama ini banyak keluhan terhadap pelayanan nakes di Puskesmas, bukan hanya di Bangkinang kota, terutama Puskesmas di kecamatan yang jauh dari ibu kota Bangkinang. Nakes yang cemberut dan ketus, pelayanan lamban dan tak jelas, Puskesmas jorok, dan sebagainya. Walaupun Dinas Kesehatan Kampar sudah mulai membenahi, namun tentu tidak serta merta sempurna, bisa jadi karena memang karakter tenaga kesehatannya begitu atau memang pengawasan yang kurang.
Dan itu berlangsung cukup lama, bertahun-tahun suara kecewa masyarakat hilang muncul seperti cowok culun merayu ceweknya namun hanya di PHP doang. Janji dan slogan memberikan pelayanan terbaik selalu terpampang melalui standing banner di depan pintu masuk Puskesmas, di baliho malah dibuat besar sekali mengalahkan iklan pelawak Komeng, namun kenyataan suara keluhan tetap terdengar seperti knalpot bobrok bunyi mengaum sebentar lalu diam.
Dan kali ini kena batunya, adalah Julianto Susi, ibu dari artis asal Bangkinang Defri Juliant yang kini berkiprah di Jakarta. Sang Bunda mendapatkan pelayanan buruk dari nakes. Bukan berhubungan dengan obat, bukan berhubungan dengan diagnosis dokter atau mall praktek, tapi hanya gara gara hospot hape.
Iya gara gara hospot saja, saat Susi diminta Vera Sang nakes untuk scan barcode, namun rupanya paket internet Susi lagi habis karena terbiasa pakai wifi di rumah, dan Susi minta tolong ke Vera yang ternyata juga sahabat dekat Susi, namun Vera mengakui bergurau menolak dan memberikan umpatan yang kalau dalam bahasa Kampar itu kurang aja sekali.
Namun gurauan ini di tanggapi beda oleh Susi, walaupun Vera sahabatnya, namun saat itu dirinya adalah pasien, yang ingin mendapatkan layanan kesehatan, tidak Terima. Mungkin psikologis pasien yang kita sama sama tahu pastilah sensitif dan dilakukan depan orang banyak, membuat Susi malu dan sakit hati.
Lalu sampailah cerita itu ke Defri, Sang anak bujang pelindung Amak, tentu saja tidak terima, maka Defri meradang di akun medsosnya lalu byaarrrr masalah ini pun terserak, bagaikan seraknya gulai cubodak saat helat kawin di Kampar, nak dipungut susah nak dibiarkan rugi.
Lha anehnya Kapusnya menyatakan pada media sudah selesai dengan cara kekeluargaan, ini adalah tipikal pejabat Kampar selama ini yang saya tau, mengampangkan semua masalah saat media bertanya
Sekali lagi beliau lupa kalau ini adalah Defri, walaupun belum setenar Nicolas Saputra tapi Defri tetaplah artis yang sudah tau kejam dan efektifnya media dalam suatu hal. Dengan tegas Defri membantah hal itu dan minta adanya permintaan Resmi dadi pihak Puskesmas Bangkinang Kota, lagi lagi netizen bersorak seperti sorak pendukung salah satu kelompok pacu sampan, jauh dari tepian sungai, tapi terdengar ke relung hati Sang pendayung
Saya tidak berdiri di salah satu pihak, tapi saya memandang bahwa saatnya pemerintah Kampar dalam hal ini Dinas Kesehatan mulai dari akar hingga ke pucuk untuk instropeksi diri. Pasien itu manusia juga, punya hati punya rasa dan punya mulut, sekarang punya medsos
Kalau selama ini tuan tuan menganggap tak kesah bentak, bergurau atau cuekin layanan karena keluhan itu akan hilang, sekarang tidak bisa lagi, ooo tidak bisa semudah itu Esmeralda
Cobalah membenahi diri, dan kali ini tolong benar benar serius membenahi diri, kalau tidak mau digoreng atau dirujak banyak orang. Tapi bukan soal tanggapan netizen yang penting, yang utama pelayanan yang baik adalah sumpah kalian para tenaga kesehatan sebelum benar benar diturunkan ke masyarakat, dan pertanggungjawabannya bukan pada pasien atau netizen, tapi pada Tuhan..
———-
Rina Dianti Hasan adalah Jurnalis di Riau dan pemimpin Umum Ruang Indonesia Bicara
