Kasus Asusila salah satu anggota DPRD Kampar dari fraksi Nasdem yang sempat buat heboh Kampar bukanlah murni kasus syahwat semata, namun lebih kepada rekayasa politik yang memang disengaja untuk menjatuhkan posisi anggota parlemen tersebut, hingga bisa dilaksanakan Pergantian Antar Waktu (PAW)
Drama politik ini bermula dari beberapa waktu yang lalu, ketika sekelompok yang mengatasnamakan mahasiswa mengadakan aksi untuk meminta agar Firdaus SE salah satu anggota fraksi NasDem DPRD Kampar dicopot, karena diduga terlibat kasus asusila dengan seorang perempuan bernama Anissa .
Tuduhan ini diperkuat adanya laporan tertulis sang korban ke Badan kehormatan (BK) dan ke Fraksi Nasdem, yang menyebutkan bahwa dirinya menjalin hubungan dengan sang legislator.
Namun ketua Fraksi Nasdem Eko Sutrisno kepada www.ruangindonesiabicara.com pada Rabu (05-08-25) menyatakan ini ternyata tidak sesederhana yang terlihat, karena dari beberapa penyidikan yang pihaknya lakukan malah ini bukan sekedar kasus asusila, namun lebih kepada kepentingan politik pihak pihak tertentu yang dibungkus melalui rekayasa kasus yang pasti menjadi sorotan publik.
“Tanggal 4 Agustus kemarin, persoalan ini sudah menemui titik terang, bahkan selesai, clean and clear karena korban Annisa sudah mencabut laporannya ke BK dan ke Fraksi dan dari beliau juga mengalir cerita bahwa ini semua adalah permainan ” ujarnya.
Dijelaskan Eko lebih jauh, dari pengakuan Annisa bahwa dirinya merasa tidak tenang dan tertekan sejak mencuatnya kasus ini, dan kondisi akhirnya membuat Annisa mengambil keputusan untuk berterus-terang tentang hal sebenarnya.
Dari pengakuan Annisa terungkap, ternyata ia tidak mempunyai hubungan asmara apapun dengan Firdaus anggota Fraksi Nasdem, hanya pertemanan biasa saja, karena selama dirinya terjerat pinjol, beberapa kali mendapatkan bantuan dari Firdaus.
Namun ada beberapa pihak mendatanginya, mereka adalah Yuli yang mengaku seorang aktivis perempuan dan seorang jurnalis, Firdaus yang mengaku seorang pengacara dan salah satu kader partai. Mereka membujuk Annisa agar mengaku ada hubungan asmara dengan Firdaus hingga hamil dan diminta menggugurkan kandungannya.
Dengan iming-iming uang sejumlah 100 juta rupiah, maka Annisa mengiyakan rencana tersebut, dan mulai membuat cerita dan berakhir dengan laporan ke Badan Kehormatan dan laporan ke Fraksi Nasdem.
Tujuan dari rencana rekayasa kasus ini adalah acara Firdaus bisa dicopot dari jabatan sebagai anggota DPRD dan PAW oleh kader yang lain.
“Namun sayangnya perjanjian mungkin tidak berjalan sesuai dengan yang dijanjikan, ditambah sorotan banyak pihak ke dirinya membuat Annisa ketakutan sendiri dan malah mengaku bahwa dirinya memang dimanfaatkan untuk tujuan politik ini.
Dan alhamdulillah kita sudah melaporkan ini ke DPD Nasdem dan menganggap masalah ini sudah jelas, sehingga tidak ada lagi prasangka terhadap anggota Fraksi kita, sehingga Beliau bisa menjalankan tugasnya dengan baik sebagai anggota dewan “jelas Eko.
Kisruh kasus asusila ini tentu saja merugikan banyak pihak, tidak hanya Firdaus sebagai sosok yang disalahkan, namun juga Annisa sendiri sebagai perempuan yang dianggap korban dan termasuk partai Nasdem sendiri.
Saat ini wakil Ketua DPD Nasdem Riau Dedi Harianto Lubis bersama dengan Badan Advokasi dan Hukum (Baju) Nasdem sedang menelusuri kasus ini secara internal dan tentu saja akan menyelesaikan dari dalam dulu, karena ini adalah sikap yang tidak patut dalam partai, dan tentunya akan diselesaikan secara aturan partai Nasdem.
Perjalanan politik memang selalu menyuruh pencapaian kekuasaan, maka politik mempunyai banyak cara dan trik untuk mendapatkan kekuasaan tersebut. Maka menggunakan kasus asusila kadang tidak terelakkan.
Masyarakat memang harus mendukung penuh upaya penegakan hukum atas kasus asusila, namun juga harus cerdas jangan sampai kasus asusila ini dimanipulasi demi kepentingan politik, karena tidak hanya mencoreng demokrasi namun juga mencoreng keadilan itu sendiri.
Publik hanya berharap agar partai Nasdem baik di Kampar maupun di Riau untuk bisa menjelaskan dan menuntaskan, bukan hanya sekedar clear and clean, namun juga tuntas dalam penyelesaiannya, memang ini adalah ranahnya internal partai Restorasi tersebut, namun ini juga menyangkut keadilan bagi masyarakat Kampar dan wajah para wakil di lembaga DPRD.
Kita tunggu episode selanjutnya dari ini.
Ditulis oleh: Rina Hasan
