Salo (rina.com): Suasana haru bercampur bahagia menyelimuti Musolla UPT SMPN 2 Salo, Senin (25/5/2026), saat sekolah tersebut menggelar acara serah terima sekaligus pelepasan siswa kelas IX Tahun Ajaran 2025/2026.
Tak ada kemewahan berlebihan. Tidak pula digelar di gedung megah. Acara berlangsung sederhana di dalam musolla sekolah. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir suasana yang hangat, akrab, dan penuh kesan bagi para siswa, guru, hingga orang tua wali murid yang hadir.
Satu per satu siswa duduk rapi bersama orang tua mereka. Wajah-wajah bahagia tampak bercampur haru. Ada senyum, ada mata yang berkaca-kaca, terlebih ketika prosesi pengalungan medali graduation dilakukan kepada seluruh siswa kelas IX sebagai tanda berakhirnya perjalanan mereka di bangku SMP.
Dalam kegiatan tersebut juga diumumkan tiga siswa dengan nilai rekap semester 1 hingga semester 6 tertinggi. Mereka menerima penghargaan berupa hadiah dan sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan prestasi yang diraih selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

Turut hadir dalam kegiatan itu Kepala UPT SMPN 2 Salo, Meldawati, M.Pd, pengawas pembina dari Dinas Dikspora Kampar Drs. Yuli Helmi, jajaran komite sekolah yang terdiri dari ketua beserta empat anggota, serta seluruh orang tua wali murid.
Dalam sambutannya, Kepala Sekolah Meldawati, M.Pd menyampaikan bahwa meski kegiatan digelar secara sederhana, namun dirinya berharap hal tersebut tidak mengurangi makna mendalam dari momen pelepasan siswa.
“Memang acaranya sangat sederhana, namun hendaknya tidak mengurangi makna dan kesan yang luar biasa untuk kita semua,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum kegiatan dilaksanakan, pihak sekolah telah mempersilakan komite bersama orang tua untuk bermusyawarah menentukan konsep acara pelepasan agar tidak menjadi beban bagi wali murid.
“Besar atau kecil acaranya kami serahkan sepenuhnya kepada orang tua. Yang penting jangan sampai menimbulkan persoalan ataupun memberatkan,” katanya.
Dalam pidatonya, Meldawati juga menyampaikan pesan menyentuh kepada para siswa yang akan melanjutkan perjalanan pendidikan mereka ke jenjang berikutnya.
“Hari ini adalah hari yang penuh rasa—bahagia, haru, dan bangga bercampur jadi satu. Setelah tiga tahun bersama, hari ini kita tidak hanya mengucapkan selamat tinggal, tapi juga selamat datang pada masa depan yang menanti kalian semua,” tuturnya di hadapan para siswa.
Ia mengingatkan bahwa kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjuangan yang lebih besar.
“Jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri, bukan versi tiruan dari orang lain. Teruslah belajar, tetap rendah hati, dan jangan pernah takut gagal. Karena gagal adalah bagian dari perjalanan menuju sukses,” pesannya.
Suasana musolla pun seketika menjadi hening ketika kepala sekolah mengajak para siswa mengenang masa-masa mereka selama berada di sekolah.
“Mungkin beberapa tahun lagi kalian akan sadar bahwa hari ini adalah salah satu kenangan paling berharga. Kalian mungkin lupa nilai matematika, tetapi kalian tidak akan lupa suasana kelas, teman sebangku, suara bel masuk, ataupun guru yang pernah memarahi sekaligus peduli kepada kalian,” ucapnya.
Ia juga berpesan agar para siswa tetap menjadi pribadi yang baik, menghormati orang tua dan guru, serta tidak mudah menyerah menghadapi kehidupan di masa depan.
“Kelulusan bukan akhir. Ini adalah langkah pertama menuju mimpi yang lebih besar. Semoga suatu hari nanti, ketika kalian berhasil meraih cita-cita, kalian masih ingat sekolah kecil ini, tempat kalian pernah tumbuh, tertawa, dan belajar bersama,” katanya.

Tak lupa, Meldawati menyampaikan terima kasih kepada seluruh orang tua atas kepercayaan yang diberikan kepada pihak sekolah dalam mendidik anak-anak mereka selama tiga tahun terakhir.
Ia juga berharap para orang tua terus mendukung pendidikan anak-anak hingga minimal jenjang SMA.
“In sya Allah, rezeki akan selalu ada untuk niat menuntut ilmu,” ungkapnya.
Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada pengawas pembina, komite sekolah, dan seluruh guru yang selama ini menjadi tempat berdiskusi dan bersama-sama membangun sekolah.
“Untuk para guru, terima kasih telah menjadi pelita yang tak pernah lelah menerangi jalan anak-anak kita, penuh kesabaran mendidik dan membimbing anak-anak usia remaja yang masih labil. Semoga menjadi amal jariyah bagi bapak ibu semua,” tutupnya.
Di penghujung acara, para siswa tampak saling berfoto bersama guru dan teman-teman mereka. Tawa dan canda masih terdengar, namun terselip rasa berat untuk berpisah dari tempat yang selama tiga tahun menjadi ruang tumbuh dan belajar bersama. (rdh)
