#efek video jenazah viral, Komisi I RDP Sinama Nenek
Bangkinang (rinacom) : Video masyarakat desa Sinama Nenek yang menggotong jenazah karena susah mendapatkan ambulan menjadi viral, selain mendapatkan tanggapan langsung Bupati Kampar Ahmad Yuzar, Komisi I DPRD Kampar bahkan sampai melakukan rapat dengar pendapat (RDP) untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya tentang kejadian tersebut.
RDP yang dilaksanakan pada senin (05-05-25) di ruang komisi I DPRD Kampar ini dipimpin langsung oleh ketua Komisi I Ristanto dan beberapa anggota komisi 1 lainya.
Hadir juga camat Tapung Hulu Wira Sastra STTp. Msi, kepala puskesmas Tapung Hulu Ns Edi Fauzi S Kep, perwakilan perusahan PT EMP yang berada di Sinama Nenek yang diwakili Ferdi dkk sebagai Publik Relation perusaan tersebut, Konten kreator yang memviralkan video tersebut pertama kali Yeni_Omak Daster, para Ninik Mamak dari Sinama Nenek. Juga hadir keluarha dari almarhum yang menjadi sosok viral dalam video ini.
“Rencananya aparatur desa juga datang dengan RT/RW, namun karena inspektorat sedang memeriksa mereka disana yang turun secara langsung ke lapangan maka mereka tidak hadir ” jelas Ristanto.

Dalam RDP ini terungkap bahwa jenazah yang digotong tersebut adalah bernama Jamilus yang diduga menderita asam lambung, Jamilus ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di kebun, dan dalam proses evakuasi dari kebun ke rumah duka maka tidak ada kendaraan, alasannya adalah saat itu sinyal sedang buruk maka tidak bisa menghubungi pihak desa.
Namun temuan dalam RDP ini juga membuka fakta bahwa selama ini ternyata memang masyarakat masih sulit mendapatkan ambulans karena akses ke aparatur desa untuk ambulan sulit. *Sebenarnya bukan tidak tahu kondisi dan tidak hanya terjadi sekali, sudah beberapa kali masyarakat mengalami hal yang sama seperti ini ” jelas Ristanto.
Bahkan Ristanto berkali kali menyatakan keprihatinan saat yang hadir dalam RDP menyampaikan bahwa selama ini ambulan tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk masyarakat. “Ternyata ambulan berada di rumah kepala desa, dan ambulan tersebut bahwa tidak dicat seperti ambulan lain di Kampar denga logo Kampar namun dibiarkan begitu saja putih polos ” ujarnya.
Dalam RDP tersebut juga terkuak bahwa walaupun sinyal buruk namun bisa saja ada aparatur seperti RT atau siapa yang menghubungi pihak desa, namun karena beralasan sabtu maka pelayanan ditiadakan. “Padahal harusnya pelayanan ambulan ini tdak mengenal jam dan hari, harus 24 jam selama seminggu ” jelasnya.
Untuk itu Ristanto meminta camat untuk melakukan evaluasi dan pembinaan selama sebulan ini di Sinama Nenek dalam pengelolaan ambulan bagi masyarakat. “Kita tidak mau kejadian seperti ini akan berulang kembali, karena sebenarnya kalau ada koordinasi yang baik dan terbiasa melayani masyarakat maka tidak akan muncul ” tegasnya
Ristanto juga meminta agar penggunaan ambulan disesuaikan dengan fungsinya melayani masyarakat, petugas ambulan harus siap siaga setiap hari hingga benar-benar bisa membantu masyarakat.

