Bangkinang Kota (rina.com): Suasana Aula Gedung Guru Kampar, Jumat (24/04/36), terasa berbeda dari biasanya. Pagi itu bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi ruang perpisahan yang dipenuhi doa, harapan, dan haru, saat Wakil Bupati Kampar, Misharti, melepas jemaah calon haji yang merupakan anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kampar.
Raut wajah bahagia bercampur haru tampak jelas dari para guru yang akan berangkat ke Tanah Suci. Di antara senyum yang terukir, tersimpan perasaan tak mudah diungkapkan—antara syukur karena mendapat panggilan suci, dan haru meninggalkan keluarga serta rutinitas yang selama ini dijalani.
Misharti yang juga menjabat sebagai Ketua PGRI Kabupaten Kampar, hadir tidak hanya sebagai pejabat, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar para guru tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa bangga sekaligus doa tulus bagi para jemaah.
“Ini adalah panggilan istimewa dari Allah SWT. Tidak semua orang mendapat kesempatan ini. Kami semua mendoakan agar bapak dan ibu senantiasa diberi kesehatan, kemudahan, dan kembali dengan predikat haji yang mabrur,” ujarnya dengan penuh kehangatan.
Prosesi tepung tawar menjadi momen yang paling menyentuh. Satu per satu jemaah menerima doa yang dipanjatkan dengan khidmat. Tangan-tangan yang menepung seakan menitipkan harapan, sementara mata yang berkaca-kaca tak mampu menyembunyikan rasa haru. Suasana sejenak hening, hanya diisi lantunan doa yang menguatkan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Asisten I Setda Kampar, T. Said Hidayat, serta Ketua PGRI Provinsi Riau Adolf Bastian. Kehadiran mereka menambah makna acara, sekaligus menjadi bentuk dukungan bagi para guru yang akan menunaikan rukun Islam kelima.

Dalam sambutannya, T. Said Hidayat mengapresiasi para guru yang tidak hanya berperan mencerdaskan generasi bangsa, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan beragama. Sementara itu, Ketua PGRI Provinsi Riau berharap perjalanan ibadah ini berjalan lancar dan menjadi inspirasi bagi anggota PGRI lainnya.
Acara pelepasan ini bukan sekadar seremoni keberangkatan, tetapi menjadi potret kebersamaan dan doa yang mengiringi langkah para guru menuju Tanah Suci. Dari aula sederhana itu, harapan besar pun dilepas—agar mereka kembali tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pribadi yang semakin memberi cahaya bagi sekitarnya. (Neri)
